PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM BANING SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DI KABUPATEN SINTANG
DOI:
https://doi.org/10.51826/piper.v22i1.1898Keywords:
Persepsi masyarakat, ruang terbuka hijau, Sintang, Taman Wisata Alam BaningAbstract
Taman Wisata Alam (TWA) Baning merupakan hutan rawa gambut yang terletak di pusat Kota Sintang dan berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan TWA Baning sebagai ruang terbuka hijau di Kabupaten Sintang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kuantitatif dan kualitatif melalui wawancara kepada 40 responden masyarakat sekitar serta pihak pengelola dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Sintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pengetahuan masyarakat mengenai fungsi TWA Baning dikategorikan kuat dengan skor 75,30%. Aspek dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan dikategorikan sangat kuat dengan skor 81,25%, sedangkan aspek kesediaan masyarakat untuk bekerja sama dalam pengelolaan kawasan juga tergolong sangat kuat dengan skor 81,73%. Hasil ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak hanya memahami pentingnya peran TWA Baning dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, tetapi juga memiliki kepedulian dan komitmen tinggi untuk mendukung pengelolaan berkelanjutan kawasan. Kesimpulannya, persepsi masyarakat terhadap TWA Baning secara umum positif dan menjadi modal sosial penting dalam upaya pelestarian ruang terbuka hijau di Kota Sintang.
References
Akudugu, M. A., Guo, E., & Dadzie, S. K. (2012). Adoption of modern agriculture production technologies by farm households in Ghana: What factors influence their decisions? Journal of Biology, Agriculture and Healthcare, 2(3), 1–13.
Anggraini, D., Malik, A., & Harujanto, H. (2019). Respon masyarakat terhadap pengelolaan hutan rakyat di Desa Mantikole. Jurnal Warta Rimba, 7(3), 94–99.
Damanik, R. N., Affandi, O., & Asmono, L. P. (2014). Persepsi dan partisipasi masyarakat terhadap sumber dayahutan (studi kasus Tahura Bukit Barisan, Kawasan Hutan Sibayak II, Kabupaten Karo). Peronema Forestry Science Journal, 3(2), 1–9..
Harnowo, D. (2022). Respon tanaman kedelai (Glycine max (L) Merril) terhadap pemupukan kalium dan cekaman kekeringan pada fase reproduktif (Tesis). Institut Pertanian Bogor, Bogor
https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/13201/9626
Harisah, A., & Masiming, Z. (2008). Persepsi manusia terhadap tanda, simbol, dan spasial. Jurnal SMARTek, 6(1), 29–43
Masyruroh, A. (2020). Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan hutan kota di Kota Serang. Media Ilmiah Teknik Lingkungan, 5(1), 36–40.
Novayanti, D., Banuwa, I. S., Safe’i, R., Wulandari, C., & Febryano, I. G. (2017). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat dalam pembangunan hutan tanaman rakyat pada KPH Gedong Wani. Jurnal Hutan dan Masyarakat, 9(2), 61–74.
Robbins, S. P. (2006). Organizational Behavior (12th ed.). New Jersey: Pearson Education.
Shrestha, R. K., & Alavalapati, J. R. R. (2006). Linking conservation and development: An analysis of local people’s attitude towards Koshi Tappu Wildlife Reserve, Nepal. Environment, Development and Sustainability, 8(1), 69–84.
Susanti, Y., Wulandari, C., Safe’i, R., Yuwono, S. B., & Kaskoyo, H. (2021). Persepsi masyarakat terhadap pengelolaan agroforestri di Tahura Wan Abdul Rachman, Bandar Lampung. Jurnal Hutan Tropis, 9(2), 123–135.
Sugiyono. (2016). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta
Slameto. (2010). Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.











